Kayne Yamal baru berusia beberapa tahun, tetapi dia sudah tahu apa arti gol Spanyol di Piala Dunia. Di sanalah dia, di Atlanta, memeluk kakak laki-lakinya Lamine, merayakan seolah-olah seluruh stadion hanya milik mereka berdua.

Sedikit yang tahu kisah di balik momen itu. Lamine Yamal tumbuh besar di Mataró, Spanyol, putra dari orang tua yang masih sangat muda dan menghadapi kesulitan keuangan yang serius. Namun sejak kecil dia menunjukkan bakat yang mustahil diabaikan, dan pada usia 7 tahun FC Barcelona merekrutnya ke akademi mudanya. Kini, di usia baru 17 tahun, dia menghasilkan sekitar 16 million dollars per tahun hanya dari klub itu, belum termasuk sponsor.



Namun demikian, di tengah sorotan, kamera, dan jutaan orang, yang paling membuat wajahnya bersinar tetaplah adik laki-lakinya. Kayne tidak mencari kamera atau gelar. Dia hanya ingin merayakan gol bersama kakaknya, dan itu, di tengah begitu banyak hiruk-pikuk, adalah hal paling murni yang bisa terjadi di Piala Dunia 🥹
