Selena Gomez mengatakan hal itu di podcast On Purpose milik Jay Shetty pada 7 November 2022, hanya tiga hari setelah merilis dokumenternya My Mind & Me. Di sana, ia berbagi bahwa dirinya mengalami “patah hati terburuk yang bisa dibayangkan” dan bahwa, seiring waktu, ternyata hal itu menjadi “hal terbaik yang pernah terjadi padaku”.
Dalam percakapan itu, sang penyanyi menjelaskan bahwa ia tidak pernah ingin rasa sakit membuat dirinya seolah mengenakan semacam zirah. Baginya, memberikan diri sepenuhnya pada sesuatu adalah cara terbaik untuk mencintai, meski ada risiko terluka. “Aku lebih baik terus patah hati daripada tidak merasakan apa pun”, akunya.

Di usia 30 tahun, Selena juga mengakui bahwa putus cinta yang menjadi konsumsi publik memaksanya memikirkan ulang banyak hal. Alih-alih membiarkan kritik mendefinisikan dirinya, ia memutuskan untuk berfokus pada pertumbuhan pribadinya dan belajar memandang masa lalunya dengan rasa syukur, bahkan atas pengalaman yang paling menyakitinya.


Sang artis mengakui bahwa ia tidak bisa mempertahankan harapan itu setiap hari, tetapi ia menolak untuk kehilangannya. Ia masih percaya pada cinta, pemulihan, dan kemungkinan untuk berubah, tanpa membiarkan penderitaan menutup pintu bagi pengalaman baru.
Jay Shetty secara khusus menyoroti keputusan itu untuk tetap percaya pada cinta setelah mengalami penderitaan. Baginya, mempertahankan kemampuan untuk membuka diri dan bersikap baik, bahkan setelah mengalami pengalaman menyakitkan, adalah “tanda kekuatan terbesar”.
