Di Banting, Malaysia, seorang pria berusia 35 tahun mengatakan sesuatu yang banyak orang bahkan tak berani ucapkan dengan berbisik.
Namanya Lokman Sumadi. Dan ketika berbicara tentang perempuan yang akan dinikahinya, ia tidak menyebutkan kelebihan-kelebihannya atau menjanjikan kehidupan tanpa masalah. Ia hanya berkata: “Dia sempurna, dan aku ingin menghabiskan sisa hidupku untuk merawatnya”.
Merawatnya. Itulah kata yang ia pilih.

Kisah ini, yang diceritakan dalam sebuah video New Straits Times pada Agustus 2024, berkisar pada gagasan yang hampir tak pernah diucapkan orang: ia tidak membutuhkan pasangan yang selalu sehat. Yang ia cari adalah seseorang untuk tetap bersamanya, bahkan ketika hari-hari terasa sulit.
Sebab hampir semua dari kita memimpikan seseorang yang tak pernah mengecewakan, tak pernah lelah, dan tak pernah membutuhkan terlalu banyak dari kita. Ia memandang segala sesuatu secara berbeda. Ia memahami bahwa cinta tidak terbukti saat semuanya berjalan lancar, tetapi saat kita harus menggenggam tangan orang yang kita cintai.

Dan hal itu tak menghentikannya. Bukan kemungkinan yang akan terjadi, bukan pula apa yang mungkin dikatakan orang. Ia menikahinya. Hingga April 2025, mereka hidup bahagia, penuh cinta. Sayangnya, Nor Azurah tak lagi sanggup menanggung penyakit itu.
Terkadang cinta tidak terlihat dalam bunga atau janji-janji besar. Cinta terlihat pada seseorang yang berkata “Aku ingin merawatmu” dan sungguh-sungguh bersungguh-sungguh.
Sebab mencintai seseorang yang sehat itu mudah. Memilihnya seutuhnya, dengan segala hal yang menyertainya, adalah perkara lain.

