Misinya adalah membunuh pedofil, tetapi ketika menghadapi hukuman mati, ia menyusun rencana mengerikan di dalam penjara: menjadi kanibal

Por Pablo Román
26 August, 2026

Selama bertahun-tahun, Alexander Maslich membangun pembenaran tertentu atas kejahatannya: ia mengaku mengejar dan membunuh pria yang telah melakukan pelecehan seksual terhadap orang lain. Kisahnya menjadi perwujudan kontradiksi yang sulit dibayangkan: seorang pembunuh berantai yang mengaku memerangi penjahat lain akhirnya terlibat dalam sebuah episode kanibalisme di dalam penjara Rusia.

Maslich lahir pada 1971 dan, menurut penuturannya sendiri, memiliki masa kanak-kanak yang ditandai oleh kekerasan dan penganiayaan. Sebagai orang dewasa, ia mulai menampilkan dirinya sebagai seseorang yang ingin “membersihkan” masyarakat dari pemerkosa dan pedofil. Narasi itu menjadi bagian utama dari citra yang ia bangun seputar pembunuhan-pembunuhannya.

Namun, kisah itu berbelok menjadi lebih gelap ketika Maslich akhirnya menghadapi hukuman mati.

Menurut penyelidikan yang diterbitkan oleh Infobae, saat dipenjara, ia merencanakan jalan keluar putus asa bersama narapidana lain: memakan teman satu sel agar pihak berwenang menganggap mereka tidak stabil secara mental dan memindahkan mereka ke klinik psikiatri, sehingga terhindar dari eksekusi.

Tidak ada yang simbolis dari rencana itu. Tujuannya adalah menggunakan tindakan kekerasan ekstrem untuk menunjukkan bahwa mereka berdua telah kehilangan kewarasan dan mengamankan perubahan dalam kondisi penahanan mereka.

Kisah ini bahkan lebih mengganggu karena kontradiksi yang dikandungnya. Maslich membangun identitas kriminalnya berdasarkan gagasan bahwa ia menghukum orang-orang yang dianggapnya sebagai monster. Namun, ketika nyawanya sendiri dipertaruhkan, ia akhirnya melakukan tindakan yang menempatkannya berhadapan langsung dengan salah satu bentuk kekerasan manusia yang paling ekstrem.

Kasusnya juga menunjukkan bagaimana beberapa pembunuh berantai membangun narasi seputar kejahatan mereka sendiri untuk menampilkan diri sebagai sesuatu yang berbeda dari diri mereka sebenarnya. Dalam kasus Maslich, citra sebagai seorang “pemburu predator” yang konon hidup berdampingan dengan karier kriminal yang pada akhirnya membawanya ke titik ekstrem.

Dan mungkin aspek yang paling mengusik dari keseluruhan kisah ini justru adalah kontradiksi tersebut: pria yang mengaku membunuh untuk “melawan kejahatan” akhirnya menjadikan kelangsungan hidupnya sendiri sebagai alasan untuk melangkah melewati batas lain.

Puede interesarte