Cristina Ramírez melihat putranya yang berusia 3 tahun, Lyle, menyeruput slushie di ranjang rumah sakitnya dan harus menahan air mata. Beberapa menit sebelumnya, itu hanyalah sore yang biasa di rumah mereka di Georgia, Amerika Serikat: anak-anak bermain sepulang sekolah, bahu babi dimasak perlahan. Hanya butuh sedetik, pergantian popok, bunyi keras di dapur, untuk mengubah segalanya.

Lyle sedang berusaha mengambil es krim dari freezer ketika sebuah slow cooker jatuh menimpanya. Luka bakar derajat dua di wajah, leher, dan bahunya. Cangkok kulit, terapi sel punca, berminggu-minggu rasa sakit yang digambarkan Cristina dengan kejujuran yang memilukan: tenang di luar, panik murni di dalam.

Dua bulan kemudian, Lyle kembali tertawa bersama saudara-saudaranya di depan kartun. Ia masih takut pada panci besar, jadi sekarang hanya panci kecil yang digunakan di rumah. Cristina merangkumnya dalam sebuah kalimat yang membekas: ketangguhannya menginspirasi mereka setiap hari.
