Mathias Kazuo Flores Tamayo berusia 11 tahun, tinggal di Comas, di utara Lima, dan sudah menggambar sejak usia lima tahun. Ketika ibunya Silvia, seorang juru masak, menjelaskan kepadanya bahwa album resmi Piala Dunia 2026 harganya sekitar 500 soles yang tidak mereka miliki, dia tidak menangis atau mengeluh. Dia mengambil pensil, krayon, dan spidol, lalu mulai bekerja.

Selama berminggu-minggu dia membuat albumnya sendiri halaman demi halaman: lambang tim nasional, potret para pemain, stadion, dan bahkan paket stiker buatannya sendiri. Setiap halaman memakan waktu sekitar tujuh menit. Dia memberi karyanya nama sendiri: ‘Matini.’ Pada 24 April, ibunya mengunggah video ke TikTok yang memperlihatkan hasilnya. Di sana, pada salah satu halaman, Mathias menulis sebuah kalimat yang membuat hati siapa pun yang membacanya hancur: ‘Maaf atas kemiskinanku’.
Video itu melampaui dua juta tayangan dalam hitungan hari. Akun resmi Panini México merespons secara publik, menjanjikan album asli sebagai hadiah untuknya. Mathias diwawancarai oleh Telemundo dan media dari seluruh benua, serta bertemu langsung dengan pesepak bola Paolo Guerrero. Mimpinya tetap sama seperti dulu: belajar arsitektur atau melukis, dan suatu hari menyaksikan Piala Dunia secara langsung.
