Tatianna memiliki enam anak dan hampir menjadi tunawisma.
Ia bukan sudah mengenal temannya itu selama bertahun-tahun, apalagi sejak kecil. Baru sembilan bulan sebelumnya, ia dan Heavan mulai bekerja bersama, dan dalam waktu singkat itu terjadi sesuatu yang tidak dapat diukur dengan kalender: mereka saling menemani melewati hari-hari sulit, menangis bersama, dan saling mendukung tanpa meminta apa pun sebagai balasan. Tiga bulan setelah mengenalnya, perempuan muda itu sudah merasa bahwa ia harus memberkati Tatianna dan anak-anaknya. Ketika enam bulan kemudian kehidupan memberinya berkat finansial, ia tidak ragu.


Tanpa meminta apa pun sebagai balasan, ia langsung membantunya membayar uang sewa. Ia hanya berkata: “Andalkan aku”. Awalnya, Tatianna mengira itu lelucon, tetapi ketika melihat bahwa itu serius, ia tak kuasa menahan air mata. Dua kata yang menopang seluruh keluarga dan mengingatkan kita bahwa terkadang persahabatan seumur hidup tidak diperlukan untuk menyelamatkan hidup orang lain.
