Austin Appelbee berusia 13 tahun ketika laut menelan rencana keluarganya.
Hari itu adalah hari Jumat di bulan Januari di Quindalup, Australia Barat, dan apa yang bermula sebagai kegiatan berkayak dan paddleboarding pada sore hari bersama ibunya, Joanne, serta saudara-saudaranya, Beau, 12 tahun, dan Grace, 8 tahun, berubah menjadi mimpi buruk ketika angin menyeret mereka ke laut. “Kami kehilangan dayung dan semakin jauh hanyut dari pantai”, kenangnya kemudian. Ibunya mengambil keputusan nekat: menyuruhnya kembali sendirian, dengan kayak, untuk mencari bantuan.


Kayak itu mulai kemasukan air. Austin meninggalkannya, melepas jaket pelampungnya karena benda itu membebaninya setiap kali ia mengayuh, dan memutuskan untuk berenang. Empat kilometer. Hampir empat jam. “Aku memikirkan ibuku, Beau dan Grace, serta teman-temanku”, katanya. Ketika akhirnya ia merasakan pasir di bawah kakinya, ia tidak memikirkan untuk beristirahat: ia berpikir keluarganya mungkin masih berada di luar sana, hidup.
Ia membunyikan alarm pada pukul 6 sore, saat cahaya siang sudah mulai memudar. Tim penyelamat dan polisi menemukan Joanne, Beau dan Grace hampir 14 kilometer dari pantai, berpegangan pada sebuah papan. Komandan penyelamat laut Paul Bresland menyebut apa yang dilakukan Austin sebagai “tindakan manusia super”. Ia lebih menyukai kata lain: katanya, ia hanya melakukan apa yang harus dilakukannya.

