Ayahnya mengira Aliou tidak akan selamat setelah mengalami luka bakar parah, tetapi neneknya menolak menyerah: ia menempuh perjalanan empat jam agar Aliou mendapat operasi gratis yang memulihkan gerak lengannya

Por Rodrigo Martínez
27 October, 2026

Aliou baru berusia 3 tahun ketika selimutnya terbakar saat ia duduk di dekat api di Senegal. Luka bakarnya parah, dan ayahnya mengira anak itu tidak akan selamat.

Neneknya, Bintou, tidak mau menerima hal itu. Ia bertekad agar Aliou tetap hidup, dan Aliou pun selamat. Namun, saat luka bakarnya sembuh, lengannya mengerut hingga tidak bisa digerakkan. Lengannya terasa sakit, ia tidak bisa menulis, dan satu-satunya pilihan adalah operasi yang tidak mampu dibayar keluarganya. Bagi Bintou, ada satu hal yang tidak bisa ditawar: cucunya harus bersekolah dan memiliki masa depan yang cerah.

Suatu hari, saat mendengarkan radio, ia mengetahui bahwa kapal rumah sakit Africa Mercy akan tiba di pelabuhan Dakar untuk menawarkan operasi gratis. Ia menempuh perjalanan empat jam ke kapal itu bersama Aliou. Di sana, Aliou menjalani operasi untuk meluruskan lengannya, lalu menjalani terapi agar bisa kembali menggerakkannya sebelum pulang.

Bintou merangkumnya seperti ini: “Mercy Ships membuka pintu besar menuju masa depan Aliou”. Menurut cerita yang disampaikannya kepada organisasi tersebut, kini Aliou hidup seperti anak-anak pada umumnya dan akan segera mulai bersekolah.

Puede interesarte