

Ibu baptisnya mengenakan topi biru dan kuning saat membuka pintu.
Itu bukan sekadar aksesori. Itu adalah cara untuk menutupi sesuatu yang telah direnggut pengobatan kanker darinya—bagian dari jati dirinya yang nilainya tak disadari sampai bagian itu hilang.
Carol tahu itu dan memutuskan melakukan sesuatu yang tak bisa dibeli di toko mana pun. Ia memotong rambutnya, rambut yang mungkin telah ia rawat dengan penuh perhatian selama bertahun-tahun, lalu mengubahnya menjadi wig untuk ibu baptisnya.
“Dia ibu baptisku… Sejak kecil, aku ingat betapa ia merawat rambutku. Ia selalu menata rambutku dan mengajariku untuk menyukainya. Hari ini, giliranku membalasnya dengan cara yang berbeda”
Saat ibu baptisnya melihat isi hadiah itu, raut wajahnya langsung berubah sendu.
Sebagian hadiah dinilai dari harganya, sementara yang lain dari pengorbanan untuk memberikannya. Hadiah ini termasuk yang terakhir: sepotong dari dirinya sendiri agar orang lain bisa kembali bercermin tanpa merasa tidak utuh.
