Ia memilih untuk mengangkat payudaranya dan menerima gelombang kebencian: “Mengapa hal itu begitu mengganggu orang?”

Por Pablo Román
3 August, 2026

Pada usia 29 tahun, Siarra Marshall-Lutton, dari Nashville, Amerika Serikat, membuat keputusan yang telah ia pertimbangkan selama bertahun-tahun: menjalani operasi untuk mengangkat payudaranya karena ia tidak pernah merasa payudaranya merupakan bagian dari citra diri yang ingin ia jalani.

Ketika ia terbangun dari operasi dan melihat dadanya untuk pertama kalinya, ia menangis tersedu-sedu, tetapi bukan karena sedih.

“Itu sempurna. Akhirnya, aku merasa tubuhku benar-benar milikku”, kenangnya, menurut pengakuannya kepada Daily Star.

Namun, membagikan kebahagiaan itu di media sosial harus dibayar dengan harga yang tak terduga: video yang memperlihatkan hasil operasinya menjadi viral dan mendapat jutaan penayangan, tetapi juga gelombang besar kritik, ejekan, bahkan ancaman yang ditujukan kepadanya dan dokter bedah yang melakukan prosedur tersebut.

Yang paling mengejutkannya adalah perbedaan perlakuan tersebut.

“Tidak ada yang mengatakan apa pun ketika seorang perempuan memutuskan untuk memperbesar payudaranya, tetapi ketika seseorang memutuskan untuk mengangkatnya, tiba-tiba semua orang punya pendapat”, katanya.

Pengalaman itu begitu sulit sehingga selama berbulan-bulan ia menghindari tampil di depan umum karena takut dikenali oleh orang-orang yang menghinanya secara daring. Seiring waktu, ia mengatakan telah belajar mengabaikan komentar-komentar tersebut dan kini merasa sepenuhnya damai dengan keputusan yang dibuatnya.

Ia juga menjelaskan bahwa perubahan itu bertepatan dengan transformasi penting lain dalam hidupnya: meninggalkan alkohol dan narkoba. Menurutnya, mencapai kondisi sadar dari zat-zat tersebut memungkinkannya mendapatkan kembali kepercayaan diri untuk membuat keputusan yang telah ia tunda selama bertahun-tahun dan memulai babak baru bersama pasangannya.

Kini, ia menggunakan media sosialnya untuk membahas harga diri, kesehatan mental, dan penerimaan diri, dengan keyakinan bahwa setiap orang seharusnya dapat membuat keputusan tentang tubuh mereka sendiri tanpa menjadi sasaran serangan.

“Jika sebuah keputusan memberimu kedamaian dan membuatmu merasa bebas, kamu tidak memerlukan persetujuan siapa pun”, simpulnya.

Puede interesarte