Walter dan Alan duduk bersama untuk pertama kalinya di kelas enam di Honolulu. Usia mereka 11 tahun, mereka bermain sepak bola berdampingan, dan saling memanggil “paman”. Persahabatan itu bertahan selama 60 tahun. Keduanya juga sama-sama memendam luka dalam diam: Walter tak pernah mengenal ayahnya, sementara Alan, yang diadopsi, kehilangan satu-satunya saudara yang dikenalnya saat berusia 19 tahun.

Beberapa dekade kemudian, masing-masing mulai mencari akar keluarga sendiri melalui basis data DNA. Tak satu pun menyangka hasilnya akan mengarah ke orang yang sama: ibu yang sama.

Pada 23 Desember 2017, saat berkumpul bersama untuk merayakan Natal seperti yang mereka lakukan setiap tahun, mereka memberi tahu semua orang. Sepanjang hidupnya, Alan yakin bahwa ia sendirian di dunia ini. Ia tak pernah tahu bahwa saudara yang begitu lama ia impikan untuk ditemukan telah berada di sisinya selama enam dekade.

