Sebenarnya, sejak kapan menangis membuat seorang pria menjadi kurang jantan? Emma Watson mempertanyakan gagasan yang selama beberapa generasi telah mengajarkan banyak anak laki-laki bahwa menunjukkan kesedihan, ketakutan, atau kerentanan adalah sesuatu yang harus mereka sembunyikan agar terlihat “kuat”.
Sang aktris membicarakan topik tersebut pada 2015, dalam sebuah percakapan untuk Hari Perempuan Internasional yang diadakan di kantor pusat Facebook di London, sebagai bagian dari kampanye HeForShe untuk UN Women. Di sana, ia menjelaskan bahwa ketidaksetaraan gender juga berdampak pada pria, terutama ketika mereka diharapkan untuk menekan apa yang mereka rasakan.
“Gagasan bahwa pria tidak boleh menangis ini mengusikku. Mereka tidak bisa mengekspresikan diri, mereka tidak bisa membicarakan apa yang sebenarnya mereka rasakan”, kata Watson, sebelum merangkumnya dalam sebuah gagasan yang sangat sederhana: kemampuan untuk mengekspresikan emosi “adalah yang membuatmu menjadi manusia, bukan yang membuatmu menjadi perempuan”.
Karena menangis tidak boleh dipahami sebagai tanda kurangnya kekuatan, apalagi sebagai sesuatu yang eksklusif bagi perempuan. Merasakan ketakutan, kesedihan, emosi, atau sekadar perlu meluapkannya adalah bagian dari menjadi manusia. Mungkin sudah waktunya meninggalkan gagasan lama “bahwa pria tidak menangis” yang begitu sering akhirnya mengajarkan mereka untuk tetap diam tepat ketika mereka paling perlu berbicara. ❤️
