María Dolores baru berusia 5 tahun ketika ibunya meninggal. Kemiskinan memaksa ayahnya mengirimnya, bersama saudara-saudaranya, ke sebuah panti asuhan di Madeira, Portugal.

Ia pulang ke rumah pada usia 9 tahun, tetapi lebih banyak kesulitan dan kekerasan telah menunggunya di sana. Pada usia 13 tahun ia meninggalkan sekolah untuk menganyam keranjang rotan dan membantu bertahan hidup.

Ia menikah dengan José Dinis Aveiro pada usia 18 tahun, yang kembali dari perang Angola dengan luka yang tak pernah sembuh: ia terjerumus ke dalam alkoholisme dan Dolores menjadi satu-satunya pencari nafkah keluarga, bekerja sebagai pekerja rumah tangga dan juru masak untuk memberi makan keempat anaknya.

Pada 5 Februari 1985, anak bungsu mereka lahir: Cristiano Ronaldo. Dolores kemudian menghadapi dua kali kanker payudara dan stroke, tetapi ia tak pernah berhenti selalu ada. Kini mereka memanggilnya ‘Ibu Keberanian,’ dan orang yang melihatnya kelaparan demi anak-anaknya kini menjadi bukti bahwa pengorbanan itu sepadan dengan setiap detiknya. 🙏

