Ia tidak melepaskan bayinya sedetik pun.

Hanya beberapa hari setelah melahirkan, seorang ibu memutuskan untuk tidak melewatkan lomba 5 kilometernya. Di tengah perjalanan, ketika putranya yang baru lahir mulai menangis karena lapar, ia tidak berhenti sepenuhnya: ia menggendongnya, menyusuinya sambil berjalan beberapa meter, lalu melanjutkan langkahnya begitu selesai.

Mereka yang melihatnya lewat tidak percaya dengan pemandangan itu: seorang perempuan menggendong bayinya di dada, menyelesaikan perlombaan dengan tekad yang sama seperti yang mungkin telah digunakannya untuk menghadapi persalinan beberapa minggu sebelumnya. Tidak ada jeda dramatis atau menyerah sebelum garis finis, hanya seorang ibu yang menangani dua kebutuhan mendesak pada saat yang sama: memberi makan putranya dan menyelesaikan perlombaannya sendiri.
