Pada Desember 2022, seorang anak laki-laki berusia 15 tahun sedang mencium lambang Maroko di ruang ganti dan merayakan tersingkirnya Spanyol di Piala Dunia Qatar. Anak itu adalah Lamine Yamal. 😮 Video itu kembali viral pada Juli 2024, tepat ketika pemain yang sama, kini berusia 17 tahun, memberi Spanyol gelar Kejuaraan Eropa keempatnya melawan Inggris.
Bagi banyak orang, urutannya sederhana: jika Anda merayakan kekalahan Spanyol, Anda tidak bisa menampilkan diri sebagai pahlawannya dua tahun kemudian. 🔥 Bagi yang lain, persoalannya sama jelasnya: Yamal memiliki ayah orang Maroko, ia berusia 15 tahun, dan merayakan bersama tim nasional Anda yang lain pada saat itu tidak menjadikan Anda pengkhianat terhadap apa pun.
Apakah identitas seorang pemain ditentukan oleh sebuah perayaan pada usia 15 tahun, atau oleh apa yang ia lakukan ketika momen kebenaran tiba? 👇
