Fox Ryker tidak mengucapkan sepatah kata pun hingga berusia 4 tahun.
Ketika didiagnosis autisme, beberapa dokter meragukan apakah ia akan pernah mampu hidup mandiri. Orang tuanya mendengar prognosis itu dan memutuskan untuk tidak menganggapnya sebagai vonis akhir, melainkan sebagai titik awal. Fox tumbuh dengan mengenakan kaus bertuliskan “Autisme: memahaminya membantu”, sambil belajar berkomunikasi sesuai kecepatannya sendiri dan menyadari bahwa pikirannya bekerja secara berbeda, bukan lebih buruk.

Kini Fox Ryker mengenakan jas putih dan menandatangani namanya sebagai “Fax Ryker, Mahasiswa Kedokteran”. Anak yang dulu tidak berbicara menjadi seorang pemuda yang belajar untuk menyembuhkan, dan memutuskan untuk membagikan perjalanannya agar keluarga lain yang menerima diagnosis serupa tidak mengira prognosis sebagai keterbatasan. Kisahnya bukan tentang mengatasi autisme; kisahnya adalah tentang apa yang terjadi ketika seseorang memberimu waktu untuk berkembang sesuai ritmemu sendiri.

