Mereka Sudah Memiliki 3 Anak dan Masih Merasa Ada Kasih Sayang untuk Dibagikan: Mereka Mengadopsi Seorang Anak Perempuan dengan Sindrom Down dan Akhirnya Membuka Rumah Mereka bagi 2 Gadis Kecil Lainnya dengan Disabilitas

Por Krishna Medina
11 September, 2026

Brian dan Kristen Wood memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak banyak keluarga bersedia jalani: mengadopsi seorang anak dengan disabilitas.
Namun mereka tidak hanya mengadopsi satu anak, melainkan tiga. Masing-masing berasal dari belahan dunia yang berbeda: Amerika Serikat, Bulgaria, dan Tiongkok.

Masing-masing berasal dari tempat yang berbeda: Amerika Serikat, Bulgaria, dan Tiongkok. Dan itu bukan karena mereka tidak dapat memiliki anak. Pasangan asal Virginia, Amerika Serikat, itu sudah memiliki tiga anak kandung ketika mereka memutuskan bahwa masih ada ruang untuk orang lain dalam keluarga mereka. 

Semuanya bermula pada 2016, ketika mereka bertemu sebuah keluarga di gereja mereka yang telah mengadopsi anak-anak dengan disabilitas melalui Reece’s Rainbow, sebuah organisasi yang membantu mencarikan keluarga bagi anak-anak dengan sindrom Down dan kebutuhan khusus lainnya.
Sampai saat itu, Brian dan Kristen sempat berpikir untuk mengadopsi anak dengan kondisi yang dapat ditangani atau diperbaiki secara medis, seperti bibir atau langit-langit mulut sumbing. Namun, mengenal keluarga itu secara dekat mengubah cara pandang mereka.

Begitulah mereka mengetahui tentang Katie, seorang gadis asal Tiongkok dengan sindrom Down, dan memulai proses untuk menjadikannya putri mereka.
Pada Maret 2020, semuanya sudah siap. Mereka hanya tinggal dua hari lagi sebelum berangkat ke Tiongkok untuk membawanya pulang ketika pandemi COVID-19 menutup perbatasan dan menghentikan proses tersebut. 

Katie harus tetap tinggal di Tiongkok, dan tidak ada yang tahu berapa lama penantian itu akan berlangsung. 

Bulan-bulan mulai berubah menjadi tahun-tahun, dan sambil terus menunggunya, kehidupan mempertemukan mereka dengan dua gadis lain. Brian dan Kristen memulai proses adopsi internasional kedua bersama Viktoria, seorang gadis asal Bulgaria dengan cerebral palsy, dan kemudian setuju menjadi pengasuh sementara bagi Makenna, seorang gadis Amerika dengan kelainan kromosom dan kebutuhan khusus yang signifikan. 

Reece’s Rainbow

Tiba-tiba, pasangan yang sudah memiliki tiga anak kandung itu mendapati diri mereka terlibat dalam kehidupan tiga gadis lain dengan disabilitas.
Keluarga itu bertumbuh sedikit demi sedikit, dan semua orang harus beradaptasi. Anak-anak mereka yang lebih besar juga mulai berpartisipasi dalam dinamika keluarga yang baru, menemani dan membantu merawat saudari-saudari baru mereka.

Namun, ketidakpastian seputar Katie terus berlanjut.

Mereka menghabiskan hampir tiga tahun untuk menunggu hingga dapat membawanya pulang. Selama beberapa waktu, mereka menerima foto, video, dan kabar dari Tiongkok, hingga kabar terbaru itu berhenti datang. Ketidakpastian tersebut menjadi begitu membebani sehingga Kristen ingat pernah bertanya-tanya:

“Apakah dia masih hidup? Bisakah kami mendapatkan bukti bahwa dia masih hidup?”

Akhirnya, setelah tiga tahun menunggu, mereka dapat menyelesaikan prosesnya, dan Katie pulang. Ketiga perjalanan yang mereka mulai dengan cara yang sepenuhnya berbeda itu akhirnya bertemu, dan Brian serta Kristen berubah dari memiliki tiga anak menjadi keluarga beranggotakan enam orang.

Reece’s Rainbow

Sejak saat itu, anak-anak perempuan tersebut telah menunjukkan kemajuan perkembangan yang signifikan, dan keluarga itu membagikan sebagian kehidupan mereka untuk menunjukkan seperti apa proses tersebut. Namun Kristen tidak bermaksud menggambarkan adopsi sebagai dongeng yang sempurna.

Terutama dalam hal Katie. Kristen mengakui bahwa penyesuaian itu lebih sulit daripada yang mereka bayangkan. Gadis itu pulang dalam usia yang lebih tua daripada saat mereka memulai proses tersebut dan membawa banyak trauma yang telah terakumulasi. Kristen berbicara secara terbuka tentang perlunya menerima bahwa beberapa luka tidak begitu saja menghilang ketika seseorang tiba di rumah yang penuh kasih.

Karena, seperti yang ia akui sendiri, cinta saja tidak dapat menghapus trauma.

Dan mungkin itulah yang membuat kisah keluarga Woods berbeda. Kisah ini bukan sekadar tentang membuka pintu rumah mereka bagi tiga gadis dengan disabilitas, melainkan tentang memutuskan untuk terus melangkah maju meskipun membangun keluarga tersebut ternyata jauh lebih rumit daripada yang mereka bayangkan.

Puede interesarte