Gagak termasuk hewan paling cerdas di planet ini. Namun, penelitian oleh mahasiswi Kaeli Swift di University of Washington mengungkap sesuatu yang mengerikan. Pada 2015, ia mengamati seekor gagak yang mencoba bersanggama dengan anggota spesiesnya yang sudah mati, di siang bolong.
Setelah itu, ia bekerja selama tiga tahun bersama profesor John Marzluff. Mereka menganalisis 309 pasang gagak di hadapan bangkai dari berbagai spesies dan menemukan bahwa perilaku ini hanya terjadi dalam 4 % pertemuan, hampir selalu pada awal musim berkembang biak, dan biasanya disertai patukan, serangan, bahkan penghancuran bangkai.
Tindakan brutal ini dapat dijelaskan oleh cara khusus gagak bereaksi terhadap kematian. Ketakutan, agresi, atau hasrat: inilah tiga respons yang diamati para peneliti di hadapan bangkai. Dan meskipun tampaknya mustahil ketiganya muncul bersamaan, selama musim berkembang biak, peningkatan kadar hormon memainkan peran penting.
Para peneliti percaya bahwa ini adalah respons “tidak disengaja” dan “keliru”, yang disebabkan oleh kombinasi keadaan hormonal burung-burung tersebut dan rangsangan yang mereka anggap saling bertentangan.

Reaksi yang membingungkan bagi siapa pun, terutama karena berasal dari salah satu burung paling cerdas di planet ini, yang mampu mengenali ancaman, mengomunikasikannya kepada kelompoknya, dan belajar dari pengalaman sebelumnya.
