“Perempuan trans adalah perempuan trans”: kontroversi tentang Chimamanda Adichie, yang menolak meminta maaf

Por Rodrigo Martínez
26 October, 2026

Chimamanda Ngozi Adichie, novelis Nigeria penulis Americanah, tidak meminta maaf, yang justru semakin memanaskan perdebatan.

Semuanya bermula dari sebuah wawancara dengan Channel 4 News, yang diterbitkan pada 10 Maret 2017. Saat berbicara tentang feminisme, ia menyatakan bahwa pengalaman perempuan trans tidak sama dengan pengalaman perempuan yang terlahir sebagai perempuan. Kritik hampir seketika muncul di Twitter. Ia mengunggah klarifikasi di Facebook tanpa meminta maaf, dan beberapa hari kemudian menegaskan kembali pendiriannya. “Tentu saja mereka adalah perempuan, tetapi ketika berbicara tentang feminisme dan gender, penting untuk mengakui perbedaan pengalaman”, katanya. “Saya tidak meminta maaf karena saya tidak percaya bahwa ada yang perlu saya mintai maaf.”

Bagi sebagian orang, memberikan nuansa bukan berarti mengecualikan, dan bahasa tidak boleh menjadi parit pemisah. Bagi yang lain, kata-kata memiliki bobot, dan memperdebatkan siapa yang disebut perempuan menyakiti mereka yang sudah menghadapi penolakan. Adichie bahkan berbicara tentang “ortodoksi bahasa” di kalangan kiri Amerika.

Apakah memberikan nuansa pada suatu pendapat merupakan bentuk kejujuran, atau justru menutup pintu bagi identitas lain?

Puede interesarte