“Superman-ku”: putra memberi penghormatan kepada ayahnya, yang bekerja tanpa lelah dan kini menghadapi kanker stadium 4

Por Ignacio Mardones
3 August, 2026

“Saat kamu berhasil, jangan lupakan ibu dan ayahmu”. Itulah nasihat yang diulang seorang ayah kepada anak-anaknya selama bertahun-tahun sambil melakukan segala yang mungkin untuk menyediakan makanan di meja. Kini, setelah didiagnosis kanker stadium 4, kata-kata itu menjadi motivasi terbesar putranya untuk terus berjuang.

Tangkapan layar

Kisah ini dibagikan oleh Amirul, seorang pemuda dari Malaysia yang memutuskan untuk mendedikasikan penghormatan emosional kepada ayahnya, yang dengan penuh kasih ia panggil “Abah” (ayah). Dalam unggahan viral, ia mengenang pengorbanan besar yang dilakukan ayahnya selama beberapa dekade untuk menghidupi keluarganya.

Tangkapan layar

Menurutnya, ayahnya bekerja sebagai pengawas pabrik, petugas keamanan, koki, pengemudi pengiriman, asisten logistik, dan bahkan mengelola toko perhiasan.

Tangkapan layar

Ia juga menjual nasi ayam di pasar malam, mengantarkan paket menggunakan mobilnya, dan bahkan mengangkut kelapa serta hasil pertanian dari perkebunan untuk mendapatkan uang tambahan. Ia tidak pernah mengeluh; ia hanya mengulang bahwa setiap usaha sepadan selama anak-anaknya tidak kelaparan.

Tangkapan layar

Namun, tahun-tahun kerja keras itu juga diwarnai kemunduran. Saat mengelola toko perhiasan, ia menjadi korban penipuan emas palsu yang dilakukan oleh salah satu pelanggannya sendiri, yang membuat keluarganya berada dalam situasi keuangan sulit. Meski begitu, ia terus menerima pekerjaan apa pun yang bisa ditemukannya untuk menghidupi istri dan anak-anaknya.

Tangkapan layar

Masalah kesehatan mulai muncul beberapa waktu kemudian. Ia mengalami kesulitan bernapas terus-menerus dan pembengkakan pada tangan serta kakinya, hingga dokter mengonfirmasi diagnosis terberat: kanker stadium 4.

Tangkapan layar

Penyakit itu merusak ginjalnya secara parah, sehingga ia tidak lagi dapat menerima kemoterapi dan harus memulai perawatan dialisis tiga kali seminggu. Beberapa bulan kemudian, ia juga mulai mengalami pendarahan terus-menerus di mulutnya.

Terlepas dari semuanya, Amirul mengatakan bahwa ayahnya tidak pernah berhenti menunjukkan kekuatan.

“Ini Ultraman-ku”, tulisnya, membandingkannya dengan pahlawan Jepang yang selalu menemukan cara untuk melindungi orang lain.

Bahkan sekarang, ketika ia tidak lagi memiliki kekuatan seperti dulu, ia terus menyemangati anak-anaknya untuk maju dan tidak pernah melupakan mereka yang membesarkan mereka.

Puede interesarte