Vanda da Silva Cezário berusia 81 tahun dan sepanjang hidupnya bergantung pada orang lain untuk membacakan rambu, pesan, atau selembar kertas untuknya.

Putranya yang biasa melakukannya untuknya. Ketika ia kehilangan putranya, ia tak lagi mendapat bantuan itu dan memutuskan bahwa sudah waktunya belajar sendiri. Kini, ia mengikuti kelas di Goiânia, Brasil, setiap Senin dan Rabu, dalam program pemberantasan buta aksara gratis yang dijalankan oleh Instituto Yduqs.
Tujuan besar pertamanya adalah membuka Alkitab dan membacanya tanpa meminta bantuan siapa pun. Dan ia sudah mulai meraih berbagai pencapaian: ia menandatangani namanya dengan benar, memeriksa jadwal bus, membaca beberapa pesan, bahkan membuat janji temu medisnya.

Ia hidup dengan rasa sakit di seluruh tubuhnya dan tak menyembunyikannya: “Rasa sakit tak lebih besar daripada keinginanku untuk belajar”. Dan rencananya tidak berhenti di situ: menurut keterangannya kepada surat kabar O Popular, ia ingin terus belajar agar menjadi pengacara atau hakim.
