Bella Longuinho tak pernah melupakan kalimat itu.

Ayahnya memanggilnya “putriku” untuk pertama kalinya, dan momen itu membentuk kembali hubungan mereka yang telah berlangsung bertahun-tahun dan diwarnai kesalahan serta luka yang membutuhkan waktu baginya untuk dimaafkan. Saat ia belajar menjadi seorang anak perempuan, ayahnya juga untuk pertama kalinya belajar menjadi ayah dari perempuan yang ada di hadapannya.

Dia tak pernah meragukan satu hal: bahwa cinta itu selalu ada, bahkan di saat-saat tersulit. Kini, ketika menengok ke belakang, dia tak lagi hanya melihat rasa sakit. Dia melihat rasa syukur, pengampunan, dan sebuah kata, “putri”, yang menyentuh sesuatu jauh di dalam dirinya setiap kali kata itu keluar dari mulut ayahnya. Dia ingin menceritakannya apa adanya, tanpa filter: cinta terkadang membutuhkan waktu, tetapi pada akhirnya datang juga.

