Brandon Bakke berusia 11 tahun dan tidak memiliki kenangan tentang ayah kandungnya ketika ia mengetahui bahwa pria itu dimakamkan di sebuah kuburan tanpa penanda di Dakota, Amerika Serikat. Keluarganya tidak mampu membeli batu nisan. Brandon tidak menangis atau menunggu orang lain menyelesaikannya: ia mengambil mesin pemotong rumput dan mengubah liburan musim panasnya menjadi hari-hari kerja di kebun-kebun lingkungan sekitar.

Ketika kisahnya sampai ke telinga Dakota Monument, sebuah perusahaan lokal, keputusannya langsung diambil: menyumbangkan batu nisan lengkap. Brandon tidak hanya menerimanya dengan rasa syukur, tetapi juga ikut serta dalam desainnya. Ia memilih untuk mengukir sebuah hati dan dua tangan yang memegang mangkuk sup, sebagai penghormatan atas pekerjaan ayahnya membantu orang-orang yang mengalami tunawisma. Sebuah penghormatan dari seseorang yang tidak pernah melihatnya, tetapi mengenalnya secara mendalam.

Apa yang terjadi berikutnya mengatakan segalanya tentang siapa bocah ini. Dengan uang yang ia kumpulkan dari memotong rumput, Brandon mendirikan “Mowing and Blowing for a Purpose”, sebuah usaha yang bertujuan membayar batu nisan bagi keluarga-keluarga yang tidak mampu membelinya. “Jika dia bisa melihatku, dia akan bangga padaku”, katanya. Tanpa pernah sekalipun saling bertukar pandang dengan ayahnya, ia menemukan cara paling nyata untuk mencintainya.

