Dia tidak mencukur. Dan bagi sebagian orang, itu sudah cukup menjadi alasan untuk membanjirinya dengan komentar kejam.

Kisah ini berulang dari waktu ke waktu di media sosial: seorang perempuan mengunggah foto atau video yang memperlihatkan tubuhnya apa adanya, dan sebagian internet memutuskan bahwa mereka berhak mengomentari sesuatu yang sangat pribadi seperti bulu di kakinya. Pesan-pesan itu tidak butuh waktu lama untuk berdatangan, penuh ejekan dan penilaian tentang apa yang “seharusnya” dia lakukan terhadap tubuhnya sendiri.

Dia tidak menghapus konten itu atau meminta maaf. Dia menanggapi, dengan menegaskan bahwa tubuhnya tidak membutuhkan persetujuan siapa pun untuk ada apa adanya. Reaksinya memicu percakapan yang jauh melampaui sebuah video: siapa yang berhak memutuskan apa yang pantas ditampilkan dan apa yang tidak.
