Tepat setahun lalu, Trinity Tatum menangis sebelum memulai giliran kerjanya di Home Depot.

Usianya 21 tahun, dan ponselnya menunjukkan versi dunia yang terasa bukan miliknya: orang-orang seusiannya berada di kapal pesiar, di gedung pencakar langit, membawa tas tangan yang tak akan pernah mampu dibelinya. “Apa yang salah kulakukan? Bagaimana aku akan berhasil?”, pikirnya setiap pagi, terperangkap dalam krisis sunyi yang begitu banyak anak muda kenal, tetapi hanya sedikit yang berani mengakuinya.

Tak seorang pun memberitahunya bahwa rasa sakit itu memiliki tanggal kedaluwarsa. Dua belas bulan kemudian, Trinity memenangkan Love Island USA, salah satu acara kencan yang paling banyak ditonton saat ini, dan menceritakan hal itu kepada majalah Flaunt: kini ia memiliki pacar yang ia gambarkan luar biasa, sistem pendukung yang menguatkannya, serta tawaran dari orang-orang yang bahkan tidak ia tahu keberadaannya. Gadis yang menangis saat membandingkan dirinya dengan orang-orang asing di internet itu akhirnya menjadi sosok yang dipandang orang lain dengan pertanyaan yang sama seperti yang dulu ia tanyakan kepada dirinya sendiri: bagaimana ia melakukannya?

