Amulya Rattan sedang merekam video yang memperlihatkan pakaiannya ketika seorang pria berjalan di belakangnya dan sempat terlihat dalam rekaman. Influencer tersebut merasa kesal dan mengklaim bahwa pria itu telah “merusak” videonya, padahal ia hanya sedang berjalan melewati ruang publik.

“Tidak ada kesadaran sosial sama sekali, sama sekali. Seseorang sedang merekam video, malah lewat di tengah-tengah. Di mana etika bermasyarakat?”, keluhnya. Ia juga memprotes fakta bahwa pria itu tidak meminta maaf karena muncul dalam rekamannya.

Video tersebut dengan cepat memicu kritik di media sosial. Banyak pengguna mempertanyakan mengapa seseorang yang sekadar berjalan di jalan harus khawatir muncul dalam konten orang lain yang sedang merekam.

Kontroversi itu membesar justru karena ungkapan “etika bermasyarakat”, karena beberapa pengguna merasa bahwa influencer tersebut menuntut orang lain menyesuaikan diri dengan rekamannya. Bahkan ada yang bercanda bahwa lain kali jalan itu harus ditutup agar ia bisa merekam dengan tenang.
Setelah dikritik, Rattan menjelaskan bahwa ia tahu dirinya berada di ruang publik dan mengatakan bahwa ia telah beberapa kali berpindah tempat untuk menghindari mengganggu siapa pun. Ia juga mengatakan bahwa ada sekelompok pria di belakangnya yang membuatnya merasa tidak nyaman dan mengakui bahwa ia seharusnya dapat menyampaikan rasa kesalnya dengan lebih baik.
Yang bermula sebagai video pakaian sederhana akhirnya menjadi perdebatan tentang sesuatu yang semakin umum: siapa yang harus menyesuaikan diri ketika seseorang memutuskan menjadikan ruang publik sebagai latar untuk kontennya?
