Angelina Alvarado, seorang perempuan dari Wyoming, Amerika Serikat, menginginkan tato di lehernya yang mewakili akar masyarakat adatnya. Namun, hasilnya justru membuatnya merasa sangat malu, sesuatu yang tak pernah ia bayangkan.
Perempuan yang merupakan keturunan Oneida dan Iroquois itu pergi ke seniman tato Ivan TwoBulls untuk membuat desain elang dan sehelai bulu.

Tato itu memiliki makna khusus: neneknya memanggilnya “Elang Kecil”, dan ia ingin memberi penghormatan kepada identitas tersebut.
Awalnya, ia puas dengan hasilnya, terutama dengan detail pada burung itu.
Namun, ketika tato itu mulai sembuh, putrinya yang berusia 15 tahun menyadari sesuatu yang luput dari perhatian ibunya.
“Bu, kenapa ada penis di lehermu?”, tanyanya.
Angelina melihat kembali desain itu dan menyadari bahwa bagian dari bulu tersebut memiliki bentuk yang menyerupai alat kelamin laki-laki.
Karena malu, ia menghubungi seniman tato itu untuk memintanya memperbaiki gambar tersebut, tetapi mereka akhirnya berselisih.

Menurut Angelina, sang seniman mengatakan bahwa ia tidak bisa menemuinya sampai tahun berikutnya.
Sementara itu, Ivan mengatakan bahwa tato tersebut belum selesai dan membutuhkan lebih banyak arsiran serta detail, sesuatu yang menurut Angelina tidak pernah dijelaskan kepadanya.
Perselisihan itu meluas ke media sosial, dan mereka saling melontarkan tuduhan.
Akhirnya, Angelina menemukan seniman tato lain yang bersedia memperbaiki desain tersebut.
“Ini tato sakral, bukan tato penis”, keluhnya.
Dan meskipun ia mengatakan masih menyukai elang itu, ia mengakui tak pernah menyangka bahwa penghormatan kepada akar budayanya akan berujung menjadi kontroversi seperti ini.
