Marc Cucurella sekali lagi menjadi salah satu nama yang paling banyak dibicarakan di Piala Dunia 2026, kali ini setelah gol kontroversial Spanyol ke gawang Austria dianulir dan memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar dan pakar mengenai keputusan wasit.

Namun, sementara media sosial memperdebatkan momen itu, banyak orang juga kembali mengingat salah satu pengakuan paling pribadi yang pernah disampaikan sang bek di luar lapangan.
Beberapa waktu lalu, Cucurella berbicara secara terbuka tentang diagnosis autisme putranya, Mateo, dan mengakui bahwa itu merupakan tantangan tersulit yang ia hadapi sebagai seorang ayah.

“Tak ada yang mengajarkanmu bagaimana menjadi seorang ayah”, akunya. Seperti yang ia jelaskan, untuk waktu yang lama ia dan istrinya tidak memahami mengapa putra mereka bereaksi berbeda dari anak-anak lain, sampai mereka menerima diagnosis tersebut.
Pesepak bola itu mengenang bahwa salah satu momen paling menyakitkan adalah melihat putranya menderita tanpa tahu bagaimana cara menolongnya. Mateo terus-menerus menangis di sekolah dan keluarganya merasa tidak berdaya.

“Yang paling membuatmu menderita adalah tidak tahu bagaimana kami bisa membantunya”, kata pemain Spanyol itu, sebuah kalimat yang menyentuh ribuan orang tua yang mengalami situasi serupa.
Seiring waktu, mereka menemukan pusat pendidikan khusus dan mulai menerima dukungan profesional. Sejak saat itu, katanya, mereka telah belajar memahami putra mereka jauh lebih baik dan menghargai setiap kemajuan kecil sebagai kemenangan besar bagi keluarga.

Kini, saat ia kembali menjadi pusat perhatian karena apa yang terjadi dengan Spanyol di Piala Dunia, kata-katanya kembali muncul di media sosial, tempat banyak orang menyoroti bahwa di balik pesepak bola yang bersaing di level tertinggi, ada juga seorang ayah yang telah menghadapi salah satu pengalaman paling sulit dalam hidupnya.
Kesaksiannya kembali membuka percakapan tentang autisme dan pentingnya memahami proses yang dijalani ribuan keluarga di seluruh dunia.
